M Suyanto, Takhlukkan Tantangan (2): Dorong Kaum Muda, Siap Mendunia!

M Suyanto menjadi Guru Besar di Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer (STMIK) Amikom sejak 1 Mei 2008, dalam Bidang E-Business, Strategic Management dan Marketing. [SHNet/Wheny Hari Muljati]
SHNet, Magelang – Mohammad Suyanto merupakan fenomena yang sayang untuk dilewatkan, mungkin terutama bagi kaum muda Indonesia. Kenapa? Lelaki yang melalui masa kecilnya di lembah Gunung Wilis, Jawa Timur ini, terbukti telah membuka kesempatan begitu luas untuk kaum muda berkiprah di jagad maya dan nyata, bahkan hingga menjangkau mancanegara.

“Dulu perguruan tinggi sangat bangga bila menjadi agen riset. Itu sudah ketinggalan sekarang,” kata Suyanto membuka pembicaraan di kantornya di kawasan Condong Catur, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) beberapa waktu yang lalu.

Ia menyampaikan, kalau pemerintah menyampaikan bahwa perguruan tinggi saat ini sudah waktunya menjadi agen pengembangan ekonomi, hal itu justru sudah lama dilakukan institusi pendidikan yang dipimpinnya. Menurutnya, ketika Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) baru saja menyebarkan visi ini, Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer (STMIK) Amikom Yogyakarta yang dipimpinnya, malah sudah relatif lama mempraktikkannya.

“Jadi, Amikom sudah mendului sejak dulu,” ujar Suyanto, disusul dengan tawa dan ekspresi jenakanya.

M Suyanto mendapatkan penghargaan dari Majalah Swa, sebagai salah satu dari tujuh tokoh yang memiliki gaya kepemimpinan 100 Persen Asli Indonesia. Tampak Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Tri Rismaharini (Risma) meraih penghargaan serupa.[SHNet/Ist]
Sudah Mewujudkan
Lelaki bergelar Profesor ini memaparkan, sejak pertama STMIK Amikom Yogyakarta didirikan, sekitar awal tahun 1990-an, dirinya telah memotivasi para mahasiswanya untuk berwirausaha. Bukan hanya memotivasi, suami dari Anisah Aini ini juga membimbing dan memfasilitasi para mahasiswa sehingga sebagian dari mereka terbukti mampu menjadi wirausaha yang relatif mumpuni di bidangnya.

“Jadi Kementerian baru visi, kami sudah lama melakukan dan mewujudkannya,” kata lelaki yang mendapat gelar Magister Manajemen dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini dengan senyum mengembang.

Jumlah alumni STMIK Amikom yang menjadi wirausaha dibandingkan perguruan tinggi terkemuka lainnya di dunia. [SHNet/Ist]
Model Nomor 1 Tingkat Dunia
Kiprah Suyanto mewujudkan perguruan tinggi sebagai agen pengembangan ekonomi bahkan telah mendapatkan pengakuan dari organisasi tingkat dunia, United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organisazion (UNESCO). Pada tahun 2009, UNESCO menjadikan STMIK Amikom Yogyakarta sebagai model untuk seluruh penjuru dunia, sebagai perguruan tinggi swasta yang mampu menghasilkan mahasiswa wirausahawan (Privat Higher Enterpreneur University).

“STMIK Amikom menjadi model nomor satu tingkat dunia, disusul The University of Phoenix dari Amerika Serikat di urutan kedua,” ujar Suyanto.

Ia menjelaskan, Amikom menjadi model peguruan tinggi kewirausahaan tingkat dunia setelah tim penilai dari UNESCO mengobservasi langsung ke institusi yang dipimpinnya. Ia mengungkapkan, keunggulan STMIK Amikom adalah penguasaan dalam bidang multimedia dan e-commerce. Menurut Suyanto, meskipun multimedia hanya sesuatu yang sangat sederhana, Amikom telah berhasil membina para mahasiswanya untuk berwirausaha di bidang yang tak jauh dari teknologi informasi dan bisnis via dunia maya tersebut.

“Sejak awal, kami fokus di bidang multimedia dan e-commerce,” tutur Suyanto yang sempat meraih gelar PhD In Management dari  Iowa University, Amerika Serikat pada 1998.

Mahasiswa Hasilkan US$1000
Ia menjelaskan, berkat dua bidang ini, institusi pendidikan yang didirikannya mampu berkompetisi dengan perguruan tinggi lain, bahkan telah membuka peluang luas bagi para mahasiswanya untuk mendapatkan penghasilan dalam jumlah relatif luar biasa bagi para mahasiswa pada umumnya.

“Mahasiswa saya ada yang berpenghasilan lebih dari US$ 1000 per bulannya,” kata Suyanto.

Ia mencontohkan, pada saat ini, dari 342 mahasiswa ada 147 orang (43%) yang berpenghasilan hingga US$ 50 per bulannya. Sebanyak 41 mahasiswa (12%) berpenghasilan antara US$50 hingga US$100 per bulan, dan sebanyak 85 mahasiswa (25%) berpenghasilan antara US$100 hingga US$ 1000 per bulannya.

“Sebanyak 14 mahasiswa atau 4% dari keseluruhan jumlah mahasiswa, tercatat berpenghasilan lebih dari US$ 1000 per bulannya,” tutur Suyanto.

Tak mengherankan, STMIK Amikom yang didirikannya kini telah menempati peringkat kedua di dunia sebagai perguruan tinggi yang menghasilkan alumni wirausahawan.

“Sebanyak 24% alumni STMIK Amikom berhasil menjadi wirausahawan,” ungkap Suyanto.

Tidak Mudah
Ia mengungkapkan, bukan hal mudah menjadikan para mahasiswa menjadi wirausaha. Apalagi yang mampu berkiprah di tingkat dunia. Ia mengenang, saat pertama kali didirikan, STMIK Amikom–yang saat itu masih berupa akademi, menjalankan proses belajar mengajar di sebuah gedung tua. Para mahasiswanya pun umumnya berasal dari kalangan menengah ke bawah, yang inferior, karena mereka umumnya juga tidak lolos seleksi masuk perguruan tinggi lainnya.

“Bayangkan, saya tentu ditertawakan banyak orang dalam kondisi seperti itu saya mengatakan visi Amikom menjadi Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia,” ujarnya mengenang.

Kini, keadaan sangat berbeda. Kini alumni Amikom Yogyakarta juga banyak yang menjadi pengusaha komputer. Menurutnya, para alumni yang menjadi pengusaha komputer bahkan termasuk yang sering mendapat penghargaan dari perusahaan komponen komputer karena berhasil menjadi distributor dengan penjualan terbanyak di Yogyakata maupun Indonesia.

“Awalnya untuk memperbaiki komputer mereka juga tidak bisa, tetapi karena belajar akhirnya mereka dapat memperbaiki komputer yang rusak. Mereka juga belajar merakit komputer, sampai akhirnya dapat merakit komputer untuk dijual,” kata Suyanto.

Setelah menakhlukkan berbagai rintangan, STMIK Amikom yang tak jarang mendapat sindiran dan hinaan, kini terus berkarya membuktikan keunggulannya. Bukan hanya di tingkat nasional institusi ini berkarya, melainkan hingga tingkat dunia.

M Suyanto saat mendapatkan penghargaan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenhuk-HAM) karena telah menghasilkan 50 lebih hak paten atas nama dirinya. [SHNet/Ist]
Kerja Sama dengan Perusahaan Terkemuka
Prestasi STMIK Amikom dalam banyak hal bisa dibilang telah terbukti berhasil melampaui prestasi sejumlah besar perguruan tinggi lainnya, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Sebagai contoh, dalam bidang perfilman animasi, institusi pendidikan ini telah bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar di dunia, seperti perusahaan perfilman di Hollywood dan Tencent, salah satu perusahaan terkemuka di China.

“Kalau Presiden baru saja mengunjungi Alibaba, perusahaan terbesar kedua di China, STMIK Amikom malah sudah bekerja sama dengan Tencent, perusahaan terbesar nomor satu di sana,” kata Suyanto lalu tertawa.

Ia memaparkan, kesempatan kaum muda untuk berwirausaha, termasuk di bidang multimedia dan e-commerce masih sangat luas. Ia mengatakan, saat ini STMIK Amikom sendiri telah menaungi sekitar delapan perusahaan, mulai dari perusahaan advertising, radio, televisi, hingga produsen film animasi.

“Saya mengatakan kepada para mahasiswa, semua perusahaan di STMIK Amikom, akan kita buat menjadi perusahaan yang mendunia, berkiprah dalam lingkup worldwide,” ujarnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *