M Suyanto, Takhlukkan Tantangan (1): “Best Seller” Tak Harus Sempurna

Mohammad Suyanto saat berada di kantornya, di kampus Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer (STMIK) Amikom Yogyakarta, di kawasan Condong Catur, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) [SHNet/Tutut Herlina]
SHNet, Magelang – Melihat sosoknya pertama kali, saya terkesan pada kesantunan dan keramahannya. Kesan positif tersebut tak salah rupanya. Obrolan sekitar dua jam bahkan tak kunjung cukup rasanya untuk mengungkap semua hal luar biasa yang ada pada dirinya.

“Nama saya Suyanto. ‘Su’ artinya indah. Jadi saya adalah ‘Yanto yang indah’,” katanya berkelakar di kantornya, Rabu (7/9), sesaat sebelum memulai menjelaskan Taman Ekonomi Kreatif yang telah diluncurkan pejabat legislatif RI di penghujung tahun lalu.

Bukan hanya santun dan ramah, lelaki bernama lengkap Mohammad Suyanto atau yang sering menuliskan namanya “M Suyanto” ini ternyata juga super-kreatif. Selain telah menghasilkan sejumlah karya yang mendapat banyak penghargaan dari dalam negeri, kreativitasnya di dunia industri teknologi informasi, termasuk di bidang perfilman juga telah menuai berbagai penghargaan dari dunia internasional.

“Kami baru saja menyepakati kerja sama dengan Tencent, antara lain untuk mendistribusikan film produksi kita ke seluruh penjuru dunia,” kata Suyanto yang baru saja pulang dari mengunjungi perusahaan teknologi informasi terbesar di China tersebut, tepatnya pada Minggu (5/9) lalu.

Laku di Pasar Dunia
Suyanto yang sehari-harinya merupakan Rektor dari Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer (STMIK) Amikom Yogyakarta ini mengungkapkan, Tencent bersedia menanggung 45% dari keseluruhan biaya proyek. STMIK Amikom hanya menanggung 10%, sementara, sisanya ditanggung dua perusahaan asal luar negeri lainnya.

“Judulnya The God Office. Ini film kita yang bakal beredar di China yang berpenduduk hingga 1,3 miliar jiwa, dan juga ke seluruh dunia,” kata lelaki asal Madiun ini dengan bangga.

“Tentu kita harapkan, China juga akan memasarkan ke Indonesia,” tambahnya.

Suyanto menuturkan, pencapaiannya di bidang perfilman animasi sejauh ini bukan tanpa rintangan. Menurutnya, banyak tantangan yang dihadapinya sejak awal membuat film animasi pada beberapa tahun lalu. Ia menyebutkan, film serial animasi berjudul Petualangan Abdan beberapa kali mendapat penolakan dari stasiun televisi nasional. Bahkan, ada stasiun televisi yang menolak menayangkan film yang terdiri dari 14 episode tersebut kendati Suyanto menawarkan penayangan tanpa bayaran alias gratis.

“Stasiun televisi tersebut menolak terkait masalah rating,” kata Suyanto.

Rektor Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer (STMIK) Amikom Yogyakarta, Mohammad Suyanto saat menerima kunjungan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) ke institusi pendidikan yang dipimpinnya, Juni 2015.[SHNet/Ist]
Tuai Banyak Penghargaan
Kendati demikian, lelaki kelahiran 20 Februari 1960 ini tidak putus asa. Ia terus membuat film-film animasi berikutnya. Hasilnya, film-film animasi produksinya bersama para mahasiswa dan dosen STMIK Amikom di kemudian hari berhasil memenangkan realtif banyak penghargaan, bahkan laku dijual hingga di tingkat internasional.

Begitu juga sejumlah film Petualangan Abdan. Menurut Suyanto, film besutannya yang dibuat berdasarkan kisah nyata tersebut berhasil mendapatkan sejumlah penghargaan. Ia mencontohkan, film Petualangan Abdan berjudul “Pahlawan Kecil”  berhasil menjadi finalis Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Award (INAICTA) 2008.

Pada tahun yang sama, film Petualangan Abdan lainnya berjudul “Hadiah Kejujuran” meraih Juara II Profesional dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Dan film Petualangan Abdan berjudul “Layang-layang” bahkan mendapatkan penghargaan dalam festival film tingkat dunia, sebagai Nominator Urbanimation International Festival.

Salah satu film animasi produksi Mohammad Suyanto bersama para mahasiswa dan dosen Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer (STMIK) Amikom Yogyakarta. Film ini mendapat berbagai penghargaan di ajang tingkat dunia.[SHNet/Ist]
Pelajaran Berharga dari Kegagalan
Suyanto mengungkapkan, kunci keberhasilannya melewati berbagai tantangan dan kesulitan adalah cara pandangnya terhadap apa yang orang pada umumnya sebut sebagai kegagalan. Suami dari Anisah Aini ini beberapa kali mengatakan, kegagalan tidak membuatnya menyerah melainkan justru memberikan pelajaran berharga untuk melakukan usaha dengan cara yang lebih baik dari yang diupayakan sebelumnya.

Ia menuturkan pengalamannya saat dirinya masih belia, saat pertama kali mencoba berjualan untuk mendapatkan uang.

“Saat itu saya masih SD. Nenek saya bilang, kalau saya ingin mendapatkan uang, sebaiknya saya berjualan,” tutur ayah dari Zidna Ilma Azzahra dan Mohammad Abdan Syakura ini berkisah.

Lelaki yang mengaku lulus kuliah dengan nilai pas-pasan ini mengisahkan, saat pertama kali berjualan kedondong, dirinya menggelar dagangannya pagi-pagi. Ia berharap, ada siswa yang membeli kedondongnya sebelum jam belajar sekolah dimulai. Sayangnya, sejak pukul 06.00 hingga lonceng masuk sekolah dibunyikan, tidak seorang pun temannya yang membeli kedondong yang dijualnya.

“Kedondong yang saya gelar di atas selembar koran pun saya kemasi, saya masukkan ransel sekolah,” kata Suyanto.

Menurutnya, “kegagalan”-nya menjual kedondong di pagi hari saat itu tidak membuatnya menyerah, karena justru telah memberinya pelajaran berharga. Ia pun menyadari bahwa pada pagi-pagi jarang ada orang yang ingin makan kedondong, karena bisa sakit perut. Oleh karena itu, ia pun memutuskan menjual kedondong pada siang atau sore hari.

“Jadi, dari ‘kegagalan’ berjualan di pagi hari, akhirnya saya jual kedondong di siang atau sore hari, sehingga ada yang beli,” kata Suyanto yang pertama kali berjualan kedondong saat dirinya masih kelas 3 SD.

Lebih dari 30 Buku
Selain terbukti mampu mendirikan perguruan tinggi di bidang teknologi informasi yang relatif terkemuka di kancah nasional dan internasional, Suyanto juga sempat mendapatkan kepercayaan untuk menulis kolom di sebuah media terkemuka di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yakni Koran Kedaulatan Rakyat. Hal ini luar biasa, mengingat pada waktu-waktu sebelumnya, lelaki yang melalui masa kecilnya di lembah Gunung Wilis ini mengaku, tulisannya berkali-kali sempat ditolak media massa.

“Walaupun sering ditolak, saya terus saja mengirimkan tulisan. Saya nulis tidak diterima, menulis lagi, tidak diterima lagi, lama-lama bosan sendiri menolak saya, lama-lama tulisan saya pun diterima,” kata Suyanto lalu tertawa.

“Lama-kelamaan, saya malah dikasih kolom,” tambahnya.

Saat ini, Suyanto bahkan telah berhasil menulis buku-buku yang dapat menjadi acuan dan sumber belajar para wirausahawan. Pria yang meraih gelar doktor di bidang Ekonomi Syariah dari Universitas Airlangga, Surabaya ini kini telah menulis tak kurang dari 31 buku. Beberapa di antaranya bahkan sangat diminati pembaca, sehingga mampu meraih penjualan terbanyak atau best seller.

Salah satu buku karya Mohammad Suyanto yang meraih penjualan terbanyak (best seller).[SHNet/Ist]
Rahasia “Best Seller”
Ada kisah menarik terkait salah satu buku best seller-nya. Suatu hari ia mendapat kabar dari Penerbit Andi, bahwa buku Strategi Periklananan pada E-Commerce Perusahaan Top Dunia yang ditulisnya menjadi buku Best Seller.

“Saya merasa senang, karena buku itu sebelumnya sebenarnya tidak laku di beberapa penerbit karena judulnya dianggap tidak menarik sama sekali,” kata Suyanto. “Ternyata penilaian penerbit itu terbukti tidak benar,” tambahnya.

Terkait buku best seller-nya, lelaki bergelar profesor ini menuturkan kisah menarik lainnya. Ia menuturkan, suatu hari Penerbit bukunya datang untuk meminta naskah yang belum selesai ditulisnya. Penerbit tersebut ngotot meminta naskah buku yang belum jadi tersebut karena khawatir ada penerbit lain mendahului menerbitkan buku, yang sejenis isinya.

“Saya meminta waktu satu minggu untuk melengkapinya, tapi Beliau tidak mau dan tetap mengambil naskah saya, karena ingin menerbitkan buku dengan topik itu yang pertama di Indonesia,” tutur Suyanto.

Ia tak menduga, buku “setengah jadi” tersebut sangat laku di pasaran. Penerbit yang awalnya akan memberikan kesempatan kepada Suyanto untuk melengkapi bukunya dengan edisi revisi, kini belum meminta melengkapi bukunya. Pasalnya, buku tersebut masih laku keras di pasaran, dan beberapa kali Penerbit harus cetak ulang.

“Kesimpulan saya, tidak ada kaitan antara best seller dan kesempurnaan. Buku ‘setengah jadi’ saya ternyata tetap best seller, kendati saya belum melengkapinya. Sekarang sudah cetakan ke-15 sepertinya,” tutur Suyanto lalu mengembangkan senyumnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *