M Suyanto, “From Zero to Hero”

SHNet, Jakarta – Semua tampak mustahil. Tidak ada uang sama sekali. Bagaimana mungkin tanpa uang seseorang bisa mendirikan sebuah perguruan tinggi?

Bukan Suyanto namanya kalau berhenti bermimpi karena tidak ada uang. Sejak belia, lelaki asal lembah Gunung Wilis ini sudah terbiasa membangun mimpi. Satu demi satu dari mimpi-mimpinya pun waktu demi waktu mulai terpenuhi. Maka, kendati tanpa dana sama sekali alias modal nol, Suyanto pun tetap pada niatnya: mendirikan perguruan tinggi.

Kegigihannya pun menjadi kenyataan. Setelah melalui berbagai rintangan, bahkan situasi kritis, lelaki bernama lengkap Mohammad Suyanto ini bukan hanya berhasil mendirikan Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer (STMIK) Amikom Yogyakarta. Lelaki kelahiran Desa Banjarsari Madiun ini ternyata juga mumpuni menghasilkan lulusan-lulusan yang sanggup bersaing di kancah dunia kerja. Para mahasiswa yang belum lulus pun, bahkan telah mampu menghasilkan uang melalui bisnis mereka alias juga sudah berwirausaha.

“Sebanyak 84% mahasiswa kami menjadi wirausaha. Sebanyak 4% dari keseluruhan mahasiswa, sebanyak 14 orang, bahkan telah mampu mendapatkan penghasilan lebih dari US$1000 per bulan-nya,” kata Suyanto saat berbincang di kantornya di kawasan Condong Catur, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), beberapa waktu yang lalu.

Gedung Tua
Kejayaan yang dituainya tahun demi tahun belakangan ini bukan tanpa rintangan. Suyanto menuturkan, tantangan bahkan sudah mengadangnya sejak pertama kali dirinya berniat mendirikan Amikom. Tantangan pertama, ia harus menyediakan gedung untuk tempat belajar para mahasiswa. Ketiadaan uang membuatnya berkeliling dari satu lokasi ke lokasi lainnya demi mencari gedung yang sesuai dengan yang diincarnya—yakni yang pemiliknya setuju uang sewa dibayar belakangan.

“Suatu hari saya menemukan sebuah gedung tua. Pada bulan Maret 1992, saya pun mendatangi pemiliknya, seorang pengusaha kaus kaki di Yogyakarta,” tutur Suyanto.

Pemilik gedung itu menyebutkan, biaya sewa untuk dua tahun Rp12 juta. Karena ketiadaan uang, Suyanto pun meminta pemilik gedung agar memperkenankan dirinya membayar biaya sewa dua kali, separuh di bulan Agustus dan separuhnya lagi di bulan September tahun itu juga.

Lho, kok gitu?,” tanya pemilik gedung kepada Suyanto.

Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer (STMIK) Amikom Yogyakarta telah meraih 22 international award dan lebih dari 60 penghargaan nasional di bidang film animasi. Saat ini, penghargaan internasional yang diperoleh institusi pendidikan ini bahkan telah mencapai 29 buah. [SHNet/Ist]
Ia pun menjelaskan, institusi pendidikan yang didirikannya baru bisa mendapatkan mahasiswa pada bulan Agustus. Oleh karena itu, setelah mendapatkan mahasiswa, dirinya baru bisa membayar uang sewa. Syukurlah, pemilik gedung tersebut setuju.

Menunggu “Izin” Turun
Proposal pendirian perguruan tinggi pun dibuat, dengan visi “Menjadi Perguruan Tinggi Komputer Terbaik di Indonesia”. Namun, cita-cita mulia tersebut ternyata tidak menemui jalan mulus. Visi menjadi Perguruan Tinggi Komputer Terbaik di Indonesia tampaknya tidak selaras dengan penampilan gedung tua tempat kuliah para mahasiswanya.

“Semua orang tertawa, hehe…,” Suyanto terkekeh saat menuturkannya.

Wong gedungnya jelek kayak gini, siapa orang yang mau kuliah di sini,” kata Suyanto mengutip kata-kata mereka yang mencela Akademi Manajemen dan Ilmu Komputer (Amikom) yang didirikannya.

Tak sampai di situ, tantangan berikutnya yang cukup menegangkan pun menghampiri Suyanto. Amikom terancam tidak mendapatkan izin dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti). Padahal, izin tersebut merupakan syarat utama pendirian Amikom sebagai perguruan tinggi.

“Dari 6 calon perguruan tinggi, 4 yang mendapatkan izin, 2 yang tidak, termasuk Amikom,” tutur Suyanto mengenang.

Izin yang tak kunjung turun membuat para dosen Amikom gelisah. Untuk menenangkan sejawatnya, Suyanto pun meminta teman-temannya agar berusaha dan berdoa lebih lagi dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.

“Kalau yang lain izinnya bisa turun, kita kok enggak, berarti kita perlu bekerja lebih keras lagi dan berdoa lebih panjang lagi,” ujar Suyanto kepada rekan-rekannya.

“Kalau itu kita lakukan, kita akan lebih sukses dibandingkan yang lainnya,” ujar Suyanto berusaha memotivasi.

Film karya STMIK Amikom Yogyakarta: The Battle of Surabaya (10 November) yang dicela di Indonesia, justru laku di Cannes Film Festival. [SHNet/Ist]
Di Ujung Tanduk
Suatu hari ada telepon dari Dikti, Jakarta. Mereka memberitahukan bahwa izin untuk Amikom bagaimana pun tidak akan turun, karena hanya ada tiga dosen yang memenuhi syarat. Padahal, untuk mendapatkan izin Amikom masih membutuhkan 12 dosen lagi yang memenuhi syarat, sementara waktu penentuan izin turun atau tidak adalah tepat pada siang keesokan harinya.

“Ke-12 dosen itu harus sudah ada pukul 11.00, karena pukul 12.00 besok, kami rapat untuk menentukan izin itu keluar atau tidak,” kata Suyanto mengutip penelepon dari Dikti.

Mendengar kabar dari Jakarta tersebut Suyanto pun tercenung. Bagaimana mungkin dalam waktu kurang dari satu hari, dirinya harus bisa mendapatkan 12 dosen yang berkualitas. Sementara, untuk mendapatkan 3 dosen saja dirinya perlu waktu berbulan-bulan. Ia menyesalkan, mengapa pemberitahuan Dikti sangat mepet, hanya satu hari sebelum hari penentuan izinnya. Tapi, ayah dari dua anak ini berusaha memandang persoalan secara positif.

“Dalam situasi di ujung tanduk waktu itu alih-alih mengeluh, saya justru menyimpulkan: berarti Tuhan akan memberi ilmu, bagaimana cara mencari 12 dosen itu dengan cara yang luar biasa,” ujar Suyanto dengan mata berbinar-binar.

Setelah menunaikan salat Zuhur hari itu, Suyanto pun merenung, mencari cara untuk dapat memperolah 12 dosen berkualitas dalam waktu sesingkat-singkatnya. Tak lama, dirinya pun mendapatkan ide, yang dia sebut sebagai “ilmu dari Tuhan”. Ia segera mendatangi ke-3 dosennya, yang masing-masing dari ilmu Teknik Informatika, Manajemen Informatika, dan Teknik Elektro.

“Saya meminta buku wisuda dari mereka. Malamnya, saya pun mengetik nama wisudawan dari buku wisuda itu sebanyak-banyaknya,” ungkap Suyanto lalu tertawa, seolah kembali menikmati kegembiraan saat dirinya berhasil menemukan jalan keluar masalah peliknya.

“Setelah itu saya datangi ‘para wisudawan’ itu ke alamat masing-masing untuk saya tawari menjadi dosen,” tambahnya.

Mereka yang didatangi Suyanto umumnya merasa kaget, karena tidak menyangka Suyanto—yang juga salah satu pendiri Primagama—bisa sampai mengenal mereka. Beberapa yang didatangi Suyanto mengaku mengenal mantan guru SMP Muhammadiyah ini karena pernah dibimbing Suyanto saat belajar di Primagama, dan sebagian lain mengatakan pernah mengikuti seminar-seminar motivasi yang diberikan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

“Kamu jadi dosen, ya?,” ujar Suyanto menawari mereka. Dan jawabannya tak diragukan lagi, mereka bersedia.

“Pukul 09.00 keesokan harinya, saya sudah mendapatkan 12 dosen. Saya kirim datanya ke Jakarta, dan tidak lama kemudian izin dari Dikti pun keluar,” ujar Suyanto lalu tertawa.

Pengalaman mencari 12 dosen dalam waktu singkat menurut Suyanto merupakan pengalaman yang sangat berharga. Ia mengaku, dari pengalaman tersebut, ia berkesimpulan, apabila kita sedang berada di situasi kritis–bagaikan telor di ujung tanduk–, itu artinya Tuhan akan memberikan ilmu-ilmu yang luar biasa kepada kita.

“Syaratnya, kita harus menyikapi segala sesuatu dengan ikhlas,” ujarnya dengan suara setengah berbisik namun bernada tegas.

STMIK Amikom Yogyakarta berhasil mendapatkan Gold Remmi Award pada Festival Ke-49 ajang tersebut pada 2015 lalu. Kemenangan Amikom dalam GRA 2015 sangat berkesan, terlebih karena Panitia menyebutkan bahwa pemenang GRA 2015 merupakan “The Next George Lucas”. [SHNet/Ist]
Status “Diridhai”
Ikhlas menerima segala sesuatu menurut Suyanto merupakan salah satu yang membuatnya menjadi berhasil seperti sekarang ini. Bukan sekali dua kali Suyanto mengalami ujian yang membuat dirinya terlatih ikhlas. Salah satunya, saat dirinya “disingkirkan” dan dikhianati  teman seperjuangannya. Alih-alih marah atau memaki, Suyanto justru memilih selalu mendoakan hal-hal terbaik untuk temannya itu. Begitu pula saat kampus yang didirikannya dipandang sebelah mata oleh banyak orang.

“Ketika Anda mendoakan yang baik, padahal Anda dicaci-maki atau diperlakukan tidak pantas, maka saat kita berdoa, hubungan kita dengan Tuhan tidak akan ada dinding pemisah, tidak ada pembatas, bisa langsung,” kata Suyanto.

Menurutnya, Tuhan rupanya menghargai keikhlasannya secara luar biasa. Kendati didirikan dengan modal nol, hingga saat ini limpahan rezeki untuk Amikom seakan tiada habisnya. Sejak awal didirikan, kendati menempati gedung tua dan dengan status perguruan tinggi Terdaftar, Amikom menerima mahasiswa baru justru lebih banyak dari kampus-kampus lainnya. Bahkan jumlah mahasiswa baru Amikom mengalahkan perguruan tinggi lain yang memiliki gedung mewah, dan berstatus Disamakan.

“Kesimpulannya, status PT itu sebenarnya ada 4, bukan 3. Kalau dulu status PT kan ada 3, yakni Terdaftar, Diakui, Disamakan. Sekarang ada satu lagi, yakni status Diridhai,” ucap Suyanto disusul gelak tawanya.

“Kalau dibilang berstatus Disamakan tidak cocok–wong gedungnya saja jelek. Tapi tidak tepat juga kalau statusnya Terdaftar. Kenapa? Karena mahasiswa Amikom selalu lebih banyak daripada PT yang statusnya Disamakan. Itulah, makanya Amikom statusnya Diridahi, hehehe…,” ujar Suyanto melanjutkan tawanya.

Ia menuturkan, kendati Amikom sudah menempati gedung yang baru, keberadaan gedung tua di awal pendirian Amikom tetap memberikan arti. Pasalnya, mahasiswa yang dididik di gedung tua itu merupakan orang-orang yang luar biasa. Mahasiswa yang berhasil meraih penghargaan internasional di bidang film animasi pertama kali adalah yang dididik di gedung tua itu.

Alumni dan mahasiswa Amikom, di bawah pimpinan Aryanto Yuniawan, bahkan mampu memproduksi sejumlah film yang laku dijual di dunia internasional. Suyanto menambahkan, hingga saat ini, Amikom telah mendapatkan 29 penghargaan internasional di bidang film animasi.

“Jadi, anak yang saya didik di gedung tua itu sudah mengharumkan nama bangsa. Tak kurang dari 10 international award didapatkan oleh generasi mereka. Tahun depan, salah satu perusahaan besar di China, Tencent, bahkan siap mengedarkan film Indonesia karya mereka ke seluruh penjuru dunia,” kata Suyanto, tanpa bisa menyembunyikan rasa bangga dalam kalimat-kalimat yang dituturkannya.

Mengenal sosok Suyanto memberikan makna tersendiri, terutama di bulan November, bertepatan dengan bulan Peringatan Hari Pahlawan yang belum lama berselang. Mendengar kisah perjuangannya, seolah mengingatkan kita bahwa modal nol bila disertai perjuangan dan keikhlasan, tidak mustahil akan membuahkan hasil luar biasa.

Mencermati sepak terjang Suyanto, kita dapat melihat salah satu bukti nyata bahwa kendati bermodal nol (zero), ternyata tak mustahil bagi seseorang untuk menjadi pahlawan (hero), karena turut berjuang mengharumkan nama bangsa. From zero to hero. 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *