GABLIND, Membantu Mengatasi Hambatan Visual Tunanetra

Demo Gablind, / STMIK AMIKOM

SHNet, Jakarta – Cacat merupakan keterbatasan yang menimpa sekelompok orang dalam indera tubuh mereka, salah satunya adalah buta atau tunanetra. Kebutaan sendiri adalah cacat yang sangat umum di antara orang-orang di seluruh dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 285 juta orang tunanetra di seluruh dunia, 39 juta orang dinyatakan buta total dan 246 juta sisanya memiliki penglihatan lemah (low vision).Sekitar 90%  tunanetra di dunnia hidup di negara-negara berkembang. Mereka membutuhkan bantuan untuk berjalan di luar dan melakukan pekerjaan sehari-hari lainnya.

Namun orang tunanetra dalam kesehariannya harus merasakan keterbatasan hidup dalam lingkup kegelapan sebab tidak memiliki kemampuan dari dirinya sendiri untuk memvisualisasikan sesuatu. Mereka harus menghadapi banyak tantangan dalam menjalani kehidupan. Dan masalahnya akan semakin parah ketika ada hambatan di depan mereka. Sebuah alat khusus yang dipergunakan seperti layaknya sebuah tongkat untuk melakukan kegiatan secara mandiri sangat dibutuhkan untuk menuntun kegiatan mereka sehari-hari. Sebelumnya banyak terdapat alat-alat bantu bagi orang buta seperti menggunakan mikrokontroler pada tongkat, sabuk, atau pun topi. Namun semua alat tersebut belum membantu masalah yang dihadapi oleh kaum tunanetra, sebab tongkat, sabuk, atau topi hanya dapat digunakan untuk menentukan kerataan permukaan dan mendeteksi rintangan.

Demo Gablin, menggunakan semacam alat remote untuk menemukan di mana posisi perangkat tersebut diletakkan

Tiga mahasiswa STMIK AMIKOM Yogyakarta, yaitu  Jeki Kuswanto, Eko Rahmat Slamet Hidayat, Arvin C Frobenius mencoba memberi solusi lewat karya ilmiah yang mereka buat. Mereka berinovasi dengan membuat sebuah kacamata dan sepatu canggih yang dipasangi sensor sehingga memungkinkan seorang tunanetra dapat diarahkan dengan mudah menggunakan sebuah teknologi canggih. Dibantu oleh sang mentor, Anggit Dwi Hartanto, M.Kom, mereka membangun suatu perangkat bantu yang aman, mudah digunakan, dan mengembangkan perangkat yang nyaman bagi kaum tunanetra. GABLIND nama perangkat bantu tersebut, terintegrasi dengan  Arduino, yakni pengendali mikro single-board yang bersifat open-source, dan disematkan pada suatu sensor tajam. Tujuannya jelas untuk meningkatkan kemampuan mobilitas penggunanya.

GABLIND (Glasses and shoes for Blind) dirancang bagi orang-orang cacat visual dan membantu mereka sebagai alat navigasi. Tujuan dari sistem ini secara keseluruhan adalah untuk memberikan kemudahan menggunakan dan memberi pertolongan navigasi secara efisien bagi orang tunanetra sehingga pada diri pemakainya merasakan visi (penglihatan) buatan dengan memberikan informasi tentang skenario lingkungan benda yang berada di sekitar mereka.

“Sensor tajam yang digunakan tujuannya untuk menghitung jarak hambatan di sekitar orang buta dan memandu penggunanya ke arah jalan yang tersedia. Kemudian saat merasakan hambatan, sensor meneruskan data ini ke mikrokontroler, dan memberi gambaran jalan alternatif untuk dilalui,” jelas Jeki dan kawan-kawan dalam laporan ilmiahnya .

menurut mereka lagi, sebagai tambahan diberikan suatu output berupa urutan peringatan suara yang bisa didengar oleh pemakainya. Hal ini berarti orang buta tidak perlu menyentuh layar ponsel mencari tombol ketika memakai GABLIND, karena banyak fungsi dapat diaktifkan dengan menggunakan perintah suara.

Tim STMIK AMIKOM di ajang InnoServe Awards 2016 di Taiwan / instagda.com/amikomjogja

Perangkat bantu ini semakin lengkap kemampuannya karena menggunakan teknologi terkini yang mencakup kombinasi sensor tajam, global positioning system (GPS), aplikasi Android dan Arduino pro mikro untuk mengembangkannya. Sementara di sisi lingkungan pengembangan terdiri atas Android IDE, Arduino IDE dan sistem Pengolahan.

Sensor tajam memberi gambaran pada pemakainya untuk merasakan hambatan dan mengirim umpan balik ke aplikasi android. Akhirnya, aplikasi android ini dan pengenalan suara digunakan untuk mendapatkan data pada koordinat lokasi. Selanjutnya, global positioning system (GPS) dipakai untuk menyediakan arah ke lokasi,”jelasnya.

Semuanya itu menunjukkan kelebihan dari sistem ini  yakni fakta bahwa perangkat yang telah mereka bangun ini dapat menjadi solusi biaya yang sangat rendah bagi jutaan orang buta di seluruh dunia.

Dalam ajang AMICTA (AMIKOM ICT Award) pada bulan Mei lalu, GABLIND menjadi salah satu pemenang kejuaraan Teknologi Informasi dan Komunikasi tersebut pada Kategori e-Inclusion serta menjadi finalis dalam International ICT Innovative Services Awards (InnoServe Awards) 2016 di Taiwan. Tapi tentunya dengan hasil positif yang didapat, diperlukan penyempurnaan terutama pada kemasan tampilan perangkat tersebut ke depannya nanti.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *