Bersama Sri Mulyani, M Suyanto Diganjar Sebagai Tokoh Perubahan

M Suyanto/www.youtube.com

SHNet, Jakarta – “Berpikirlah positif, jangan negatif dalam menghadapi setiap peristiwa,” kata Muhammad Suyanto, Rektor Universitas Amikom awal November 2016, di ruang kerjanya. Saat itu, ia baru saja menerima kabar, STMIK AMIKOM (Sekolah Tinggi Manajemen dan Informatika dan Komputer AMIKOM) yang ia dirikan pada 1990-an belum bisa dinyatakan sebagai Universitas.

“Ini mengulangi yang dulu. Dari enam yang mengajukan izin untuk mendirikan perguruan tinggi, dua tidak disetujui. Yang tidak disetujui itu salah satunya adalah STIMIK AMIKOM. Karena terus berusaha dan berdoa, izin itu akhirnya keluar juga,” ujarnya. Ia mengatakan, ada pesan Tuhan di balik penolakan pemberian izin perubahan status dari Sekolah Tinggi menjadi Universitas. “Supaya kami lebih giat lagi berusaha dan berdoa,” ujarnya sambil tertawa.

Suyanto tidak saja sosok yang sederhana dan rendah hati, tetapi juga dikenal suka humor. Ia tidak membeda-bedakan antara anak buah dan atasan. Dialog dan senyum menjadi kunci untuk menjalin setiap hubungan. “Kalau kereng (galak) nanti orang pada lari semua,” katanya dibarengi gelak tawa.

Suyanto mengatakan, seseorang perlu berpikir positif dalam keadaan apapun. Sebab, pikiran positif akan memunculkan banyak peluang. Sementara itu, berpikiran negatif hanya akan mendatangkan ancaman. Pola pikir seperti itu selalu ia tanamkan dalam dirinya sendirinya, juga rekan kerjanya.

Apa yang diyakini Suyanto itu menjadi kenyataan. Setelah sempat ditolak, kabar gembira datang bulan Februari 2017 lalu. Kementerian Ristek dan Dikti akhirnya menyetujui STMIK AMIKOM berubah menjadi Universitas AMIKOM. “Kami sudah menjadi Universitas sekarang. Ada 21 jurusan,” katanya saat dihubungi SHNet akhir Februari lalu.

STMIK AMIKOM bukan perguruan tinggi biasa. Ia dinobatkan sebagai Private Entrepreneur University oleh UNESCO. Selain pendidikan, kampus ini memiliki 7 perusahaan yang bergerak di bidang IT, perfilman, televisi dan advertising. Jumlah entrepreneur yang dihasilkan mengalahkan Universitas Princeton, Harvard dan MIT.

Menurut Suyanto, penolakan sudah sering ia terima dalam hidupnya. Begitu juga dalam pembuatan film animasi. film serial animasi pertama yang mereka produksi berjudul Petualangan Abdan beberapa kali mendapat penolakan dari stasiun televisi nasional. Bahkan, penolakan tetap dilakukan sekalipun ia menawarkan penayangan film 14 episode tersebut secara gratis.

Kendati demikian, lelaki kelahiran 20 Februari 1960 ini tidak putus asa. Ia terus membuat film-film animasi berikutnya. Hasilnya, film-film animasi produksinya bersama para mahasiswa dan dosen STMIK Amikom di kemudian hari berhasil memenangkan realtif banyak penghargaan, bahkan laku dijual hingga di tingkat internasional.

Begitu juga sejumlah film Petualangan Abdan. Menurut Suyanto, film besutannya yang dibuat berdasarkan kisah nyata tersebut berhasil mendapatkan sejumlah penghargaan. Ia mencontohkan, film Petualangan Abdan berjudul “Pahlawan Kecil”  berhasil menjadi finalis Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Award (INAICTA) 2008.

Pada tahun yang sama, film Petualangan Abdan lainnya berjudul “Hadiah Kejujuran” meraih Juara II Profesional dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Dan film Petualangan Abdan berjudul “Layang-layang” bahkan mendapatkan penghargaan dalam festival film tingkat dunia, sebagai Nominator Urbanimation International Festival.

Film animasi “The Battle of Surabaya” memang sukses diputar di bioskop-bioskop dalam negeri, tetapi bukan tanpa celaan. Sejumlah kalangan dari dunia perfilman dalam negeri menyebut film tersebut “tak layak” dapat pujian.

Bahkan, seseorang dari dunia perfilman dalam negeri melalui status di media sosialnya sempat menyebut “The Battle of Surabaya” sebagai karya anak angsa (bukan bangsa). Yang lainnya menyebut karya anak bangsa (t).  “Tetapi tidak apa-apa,” katanya. Toh, film itu ternyata tidak hanya laku di Indonesia tetapi juga di manca negara. Film itu masuk nominasi dan beberapa kali mendapat penghargaan internasional.

Saat ini, Suyanto bersama timnya tengah mengerjakan film animasi Aji Saka dan The God Office. Film The God Office dikerjakan bareng-bareng dengan Tencent, sebuah perusahaan pemilik QQ, atau Facebook versi China. Secara finansial, perusahaan itu adalah perusahaan online nomor satu di China.

Tencent bersedia menanggung 45% dari keseluruhan biaya proyek. STMIK Amikom hanya menanggung 10%, sementara, sisanya ditanggung dua perusahaan asal luar negeri lainnya.

“Judulnya The God Office. Ini film kita yang bakal beredar di China yang berpenduduk hingga 1,3 miliar jiwa, dan juga ke seluruh dunia,” kata lelaki asal Madiun ini dengan bangga. “Tentu kita harapkan, China juga akan memasarkan ke Indonesia,” tambahnya.

Suyanto mengungkapkan, kunci keberhasilannya melewati berbagai tantangan dan kesulitan adalah cara pandangnya terhadap apa yang orang pada umumnya sebut sebagai kegagalan. Suami dari Anisah Aini ini beberapa kali mengatakan, kegagalan tidak membuatnya menyerah melainkan justru memberikan pelajaran berharga untuk melakukan usaha dengan cara yang lebih baik dari yang diupayakan sebelumnya.

Ia mengaku, ingin terus membuat film animasi dan berharap suatu saat bisa masuk jajaran box office. Ia tak khawatir dengan perkembangan dunia digital, dimana orang lama kelamaan kemungkinan akan meninggalkan bioskop dan beralih ke internet. “Tidak masalah. Mau bioskop, mau digital, saya kan bikin flim yang bisa ditonton pakai media apa saja,” ujarnya.

Berkat kreatifitasnya membuat film animasi itu, Selasa (25/4) sore ini, di Jakarta Theater, dia diganjar oleh Harian Republika sebagai Tokoh Perubahan bersama dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Selamat Pak Suyanto. Semoga film animasinya makin mendunia! (Tutut Herlina/Wheny Hari Muljati)

Comment

ApritySiptdiot
Others can perform a bigger harder erection but cannot maintain it during sexual intercourse. Once you discover the most effective natural options, you can once again have full charge of your sexual pleasures.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *