B-Smart, Teknologi yang Menyentuh Kaum Tunanetra

ilustrasi / youtube

SHNet, Jakarta – Perkembangan teknologi telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban manusia. Kemajuan teknologi di berbagai bidang cepat berkembang hampir di seluruh aspek kehidupan masyarakat untuk membantu, melayani, serta mempermudah penggunanya. Salah satu yang sedang berkembang pesat dan dinikmati oleh masyarakat saat ini adalah teknologi smartphone. Tapi benarkah semua orang dapat menikmati atau terbantu dengan teknologi tersebut?

Menurut data yang dikeluarkan WHO tahun 2014, terdapat 285 juta orang di seluruh dunia menderita gangguan penglihatan. 39 juta di antaranya mengalami kebutaan dan sisanya sebanyak 246 juta orang memiliki penglihatan lemah. Di sisi lain smartphone menjadi perangkat media komunikasi utama yang saat ini dipakai oleh hampir semua orang. Dari catatan fakta yang ada tersebut inovator dari STIMIK AMIKOM Yogyakarta, Elik Hari Muktafin, mencoba mengembangkan sebuah perangkat berbasis sistem android untuk menyentuh keberadaan para tunanetra sehingga mereka dapat terbantu dan beralih untuk menggunakan smartphone yang memiliki teknologi layar sentuh (touchscreen).

creavismartit.com

Alat yang diberi nama “Braille-Smart (B-Smart) Application” tersebut memang merupakan solusi yang dirancang untuk kaum tunanetra. B-Smart adalah sebuah personal mobile application yang menggunakan “Virtual Braille Keyboard” sebagai alat bantu navigasi dan media penginputan. B-Smart mempunyai tiga sub-aplikasi, yakni B-TOUCH yang dipakai untuk berkomunikasi seperti chat, call, messenger, notes, clock, text to speech atau sebaliknya, dan geo location. Aplikasi B-SCHOOL digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan (jadwal akademik, browser, bimbingan online, school tracking, dan lain-lain), serta aplikasi B-TOOLS yang dipergunakan bagi kebutuhan pekerjaan sehari-hari.

Melalui ketiga aplikasinya, B-Smart menjembatani perbedaan metode komunikasi tunanetra dalam melakukan kontak dengan sesamanya maupun orang normal tanpa perlu memaksa salah satu di antaranya untuk belajar metode lain, serta dapat menerima pendidikan yang setara dengan orang normal dan dapat melakukan kegiatan sehari-hari tanpa perlu kemampuan melihat.

B-Smart telah mendapatkan berbagai pengakuan secara nasional dan internasional termasuk tiga peserta terfavorit di ajang pameran i3E. Awal Desember tahun ini aplikasi tersebut bahkan akan tampil mewakili Indonesia di ajang APICTA 2016 di Taipei, Taiwan.  Selain itu Amikom Business Park yang menjadi inkubator B-Smart juga turut diikut-sertakan dalam pelatihan technopreneur selama 2 minggu di UK pada bulan Januari 2017 mendatang, yang merupakan program kerjasama antara Kemenristekdikti dengan pemerintah Inggris.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *